Pacuan Kuda Sudah Jadi Budaya

Minggu, 2 Maret 2014 - 08:49 WIB | Story | Dilihat: 201 kali
  • SEEKOR kuda patah kaki saat bertanding
  • PERMAINAN anak di kompleks pacuan kuda
  • PENONTON di tribun utama
  • LEPAS start
  • Pasar Kaget
  • JOKI mengendalikan kuda
  • FOTOGRAFER dari berbagai daerah mengabadikan pacuan kuda
  • PUTARAN final
Next
Previous

PERHELATAN pacuan kuda tradisional tanpa pelana hanya ada di dataran tinggi Gayo, terutama Aceh Tengah, selain Bener Meriah dan Gayo Lues. Aceh Tengah yang terus menjuarai turnamen adu kecepatan kuda berlari di arena pacu kawasan dingin tersebut telah menjadikannya sebagai budaya, termasuk keseharian warga dalam mengarungi terjalnya perbukitan.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga menjadikannya sebagai salah satu sektor wisata unggulan, melalui pagelaran lomba pacuan kuda tahunan, seperti baru-baru ini. Arena pacuan kuda di Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing kembali diserbu ribuan warga yang ingin menyaksikan ketangkasan para joki memacu kuda.

Pacuan kuda dalam rangka memperingati HUT ke-437 Kota Takengon dari 17 sampai 23 Februari 2014 diikuti hampir 300 ekor kuda dari Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Arena pacuan itu telah menjadi sarana hiburan warga Gayo, termasuk wisatawan yang ikut bersorak gembira melihat pejoki bertarung.

Bahkan, Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah saat menutup pacuan kuda pada Minggu (23/2) mengaku baru pertama kali melihat langsung. “Ini merupakan kali pertama saya melihat langsung pacuan kuda tradisional di Gayo yang memang sudah menjadi tradisi dan budaya disini,” katanya.

Inilah salah satu budaya warga Gayo yang hingga kini masih dilestarikan. Semoga, perhelatan tersebut juga tetap lestari, sehingga suasana berbeda di daerah ini bisa terus dinikmati warga sebagai sarana hiburan di kawasan tengah Aceh yang eksotis ini.

teks:serambi/mnur/gunawan
foto:serambi/gunawan