Ija Kroeng Karya Anak Aceh

Selasa, 2 Pebruari 2016 - 20:13 WIB | Nanggroe | Dilihat: 359 kali
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
    Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar. SERAMBI/BUDI FATRIA
    Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
    Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
    Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
Next
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar. SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
  • Pekerja menjahit "Ija Kroeng" kain sarung motif khas Aceh di salah satu rumah industri, di Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh, Senin (1/2/2016). Brand sarung ija kroeng selain dipakai sehari-hari juga dijadikan sovenir oleh wisatawan dengan harga Rp 117.000 hingga Rp 300.000 per lembar SERAMBI/BUDI FATRIA
Previous

Kain sarung merupakan salah pakain yang sering digunakan masyarakat di Aceh. Berkain sarung telah dikenal luas sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-17. Kain serbaguna yang banyak digunakan dalam berbagai kesempatan.

Khairul Fajri Yahya (35), seorang pemuda Aceh yang pernah mengenyam pendidikan di Jerman tergerak untuk melestarikan sekaligus mempopulerkan budaya bersarung.

Ide ini terbesit lantaran kain sarung mewakili spirit keacehan. Berbagai corak, motif dan warna telah diproduksi oleh Khairul Fajri, kita juga bisa memesan menurut selera yang diingikan dengan harga yang terjangkau. SERAMBI/BUDI FATRIA