Melestarikan Warisan Raja

Minggu, 21 Pebruari 2016 - 07:00 WIB | Story | Dilihat: 488 kali
  • Jamilah (55) memperlihatkan kupiah meukeutop hasil kerajinan tangan.
  • Merajut kupiah meukeutop.
  • Merajut kupiah meukeutop.
  • Warga Desa Masjid Tungkop, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie yang masih mempertahankan rumah Aceh.
  • Memasang kapas.
  • Baju Motif Aceh.
  • Tas Motif Aceh.
  • Perajin Kupiah Meuketop di Gampong Masjid Tungkop, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie.
  • Menyusun warna-warna motif Aceh.
Next
Previous

PARA perempuan Desa Masjid Tungkop, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie, masih setia melestarikan warisan raja, berupa kupiah Meukeutop.
Pada masa kerajaan Aceh, kupiah itu dipakai oleh Sultan Iskandar Muda dalam kesehariannya. Kini, kupiah Meukeutop digunakan oleh kaum laki-laki pada acara adat seperti perkawinan, sunatan, dan acara kebudayaan.

Jamilah (55) adalah satu dari beberapa perempuan yang masih setia melestarikan kupiah meukeutop. Saban hari dengan tangan dan hatinya, ia merajut kain-kain empat warna yang melambangkan keagungan Kerajaan Aceh.

Walau penglihatannya mulai terganggu, Ibu empat anak ini tetap setia merajut warisan sejarah yang kaya akan nilai seni ini.
Untuk membuat satu kupiah Meukeutop, Jamilah membutuhkan waktu lima belas hari. Kupiah hasil karya Jamilah ini dijual dengan harga Rp 200.000-Rp 400.000 per buah.

Pendapatan dari menjual kupiah tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Jamilah bersama suaminya harus menggarap sawah yang dia sewa dari masyarakat setempat.
Kesetiaan Jamilah untuk menjaga warisan raja Aceh, tak perlu diragukan lagi. Dia berkomitmen membuat kupiah Meukeutop hingga akhir hayatnya, bahkan keahliannya itu sudah diwariskan kepada anaknya Hulaifa (27).

TEKS DAN FOTO : SERAMBI/BUDI FATRIA